Entah darimana saya memulai menulis blog kali ini, yang jelas blog kali ini menceritakan keluh kesah dan perjuangan hidup saya, terutama urusan asmara.
Saya laki-laki yang biasa saja, yang punya banyak kekurangan, yang bahkan tidak punya kelebihan mencintai satu wanita. Pertama kali bertemu dengannya biasa saja, tanpa perasaan, tanpa cinta pada pandangan pertama, tanpa terpesona waktu pertama bertemu. Seiring berjalannya waktu, makin akrab antara kita berdua, dan ada satu moment dimana saya yakin akan mengajaknya membangun rumah tangga bersama, hidup bersama, dan menua bersama.
Hehe, bukan seperti kisah pangeran dan putri yang bertemu, perjalananku untuk meyakinkannya, untuk mau menjadi bagian hidupku membutuhkan waktu, tenaga, uang? yaa mungkin, tapi yang jelas bukan perkara mudah untuk meluluhkan hatinya, tidak semudah waktu saya memikat hati perempuan sebelum-sebelumnya. Dimulai saat dia bilang nyaman berbicara kepadaku berlanjut hingga tepat dimana dia di persimpangan, antara memilihku atau memilihnya, dan disini berawal saya tersandung batu berkali kali. Bisa saja pada saat itu saya pergi ketika tau dia bingung terhadap perasaannya sendiri, tapi entah mengapa bisa bertahan sekuat dan sampai saat ini.
Batu Pertama: aku siapa?
Ego awalnya yang mendominasi terhadapku yang membuat kadang saya kewalahan, berfikir ulang bagaimana untuk meyakinkannya, untuk menurunkan sikap mendominasinya, atau mungkin banyak faktor yang menyebabkan dia sampai bisa mendominasi terhadapku (usia, pengalaman, dan rupa?). Tapi di fase ini saya mulai senang, setidaknya dia ada perasaan terhadapku meskipun perasaannya masih abstrak, belum bisa digambarkan bentuk dan wujudnya seperti apa ( bukankah kita harus melihat segala sesuatu dari sisi positifnya? )
Setiap kali bertanya perasaannya terhadapku, dia selalu menjawab hal yang sama, jawaban yang membuat saya bingung, apakah harus mundur atau maju terus. Dan dari sekian saya menyukai wanita, entah mengapa baru terhadapnya bisa sesabar dan bertahan seperti ini.
Batu Kedua: aku sadar diri.
Bagaimana aku bisa tidak sadarkan diri selama ini, aku terus berjuang terhadapnya yang pada saat itu hatinya masih memikirkan sosok orang lain. Tahap ini pula dimana saya bisa meneteskan air mata untuk wanita, sungguh bukan sikap ksatria sekali bukan, tapi apa daya hati ini tercabik cabik. Selama ini raganya bersamaku tapi hatinya ternyata masih milik orang lain, masih memikirkan orang lain, masih merindukan orang lain, atau masih mencintai orang lain? Tapi apa yang kulakukan terhadapnya sangat sangat tulus 😊
Aku Mundur?
Satu hal yang pada saat itu tidak bisa kulakukan, yakni mundur, atau setidaknya jika ia tidak menyuruhku untuk mundur
Batu Ketiga: kembali lagi?
Frustasi, heran, dan mungkin hampir menyerah. Bagaimana dia bisa menyimpan berbagai perasaan terhadap beberapa orang sekaligus. Ketika saya tahu tentang sebagian isi hatinya, disitu saya merasa kenapa saya begitu bodoh mengorbankan diri untuk seseorang yang masih menyimpan perasaan terhadap orang lain. Seketika hati ini kembali pecah saat dia menangisi seseorang selain saya disampingnya, dan jujur baru kali ini saya paham bagaimana perasaan bisa se-absurd itu
0 comments:
Posting Komentar
Tolong Komentarnya sobat